konveksi Sukabumi

Banyak Brand Konveksi Sukabumi Boncos! Ini Kesalahan Fatal Menentukan Harga

Banyak brand fashion pemula merasa produknya “nggak jalan”, padahal masalah utamanya bukan di desain atau kualitas. Akar masalahnya sering jauh lebih simpel tapi fatal: salah menentukan harga sejak produksi di konveksi Sukabumi.

Kesalahan ini biasanya nggak langsung kelihatan. Awalnya masih aman, masih bisa jual. Tapi pelan-pelan margin habis, diskon nggak berani, iklan seret, lalu bisnis berhenti di tengah jalan. Artikel ini ngebahas kesalahan-kesalahan paling sering yang kejadian, biar kamu nggak ngulangin pola yang sama.


Terlalu Fokus Murah, Lupa Hitung Realitas Produksi

Kesalahan paling klasik: ngejar harga produksi paling murah. Banyak brand datang ke konveksi Sukabumi dengan satu mindset, “Yang penting murah dulu.”

Masalahnya, harga murah sering berarti banyak kompromi. Mulai dari bahan yang kurang konsisten, jahitan seadanya, sampai risiko produk reject yang lebih tinggi. Di atas kertas kelihatan hemat, tapi di realita biaya tambahan muncul dari mana-mana. Retur, komplain, repeat produksi, semuanya makan margin.

Harga produksi seharusnya dihitung buat bertahan, bukan sekadar buat mulai.


Nggak Masukin Biaya Non-Produksi ke Harga Jual

Kesalahan fatal berikutnya adalah nganggep biaya produksi = total modal. Padahal di dunia nyata, biaya itu nggak berhenti di biaya produksi dari konveksi.

Ada biaya desain, foto produk, iklan, fee marketplace, sampai ongkir subsidi. Brand pemula sering mikir, “Nanti aja mikirin itu.” Akhirnya harga jual terlalu tipis, dan setiap penjualan cuma nutup biaya tanpa sisa.

Konveksi Sukabumi yang berpengalaman biasanya bisa bantu simulasi harga dari awal, tapi keputusan akhirnya tetap di owner. Kalau dari awal salah hitung, konveksi sehebat apa pun nggak bisa nyelametin margin.


Takut Pasang Harga Lebih Tinggi dari Pasar

Banyak brand minder duluan sebelum jualan. Lihat kompetitor lebih murah dikit, langsung nurunin harga tanpa bandingin kualitas secara adil.

Padahal, kalau produksi di konveksi Sukabumi dengan kualitas jahitan rapi, ukuran konsisten, dan bahan sesuai spek, harga sedikit lebih tinggi itu wajar. Masalahnya bukan di mahal atau murah, tapi apakah harga itu bisa dijelasin secara logis ke pasar.

Brand yang bertahan lama bukan yang paling murah, tapi yang paling masuk akal.


Nggak Nyisain Ruang Buat Diskon dan Promo

Ini kesalahan yang baru kerasa pas mau scale. Harga jual sudah mepet modal, akhirnya nggak punya ruang buat diskon, bundling, atau campaign besar.

Sementara brand lain bisa main promo tanpa panik, brand yang salah harga cuma bisa nonton. Padahal diskon itu bukan soal nurunin harga, tapi soal strategi narik volume.

Harga sehat itu bukan cuma nutup biaya, tapi punya napas buat gerak.


Salah Pilih Partner Konveksi, Efeknya ke Harga Jual

Kesalahan terakhir sering terjadi diam-diam: salah pilih konveksi. Bukan soal mahal atau murah, tapi soal konsistensi.

Konveksi Sukabumi yang kurang rapi bikin risiko reject tinggi. Produk gagal itu biaya, dan biaya itu harusnya masuk perhitungan harga jual. Kalau nggak, ya margin yang kena.

Partner produksi yang transparan dan stabil bikin harga jual lebih terkontrol. Ini bukan soal teknis doang, tapi soal kelangsungan bisnis.


Penutup

Sebagian besar kegagalan brand fashion pemula bukan karena produknya jelek, tapi karena salah menentukan harga sejak kerja sama dengan konveksi Sukabumi. Terlalu murah, salah hitung, takut pasang harga, dan nggak siap strategi jangka panjang.

Harga yang benar itu bukan yang paling rendah, tapi yang bikin:

  • Produksi aman
  • Bisnis jalan
  • Brand bisa tumbuh

Di Salmankonveksi, banyak brand justru mulai dari simulasi harga dulu sebelum produksi. Tujuannya jelas: hindari kesalahan fatal sejak awal.

Artikel selanjutnya akan bahas:
👉 Produksi Dulu atau Pre-Order? Ini Plus Minusnya — biar produksi nggak cuma murah, tapi juga sehat.

Bagikan: WhatsApp Facebook Telegram

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top