Banyak brand fashion tumbang bukan karena desain jelek atau produk nggak laku, tapi karena salah nentuin harga jual. Terlalu murah, capek sendiri. Terlalu mahal, pasar kabur. Di sinilah pentingnya kerja bareng Salman konveksi Sukabumi yang paham alur produksi sekaligus logika bisnis.
Harga jual pakaian itu bukan soal nebak angka atau ikut-ikutan kompetitor. Ada hitungannya. Ada strateginya. Apalagi buat brand yang lagi berkembang dan produksi lewat konveksi, kesalahan harga di awal bisa efek domino ke cashflow, stok, sampai mental owner.
Di artikel ini, kita bahas cara menentukan harga jual pakaian yang masuk akal, realistis, dan aman, khususnya buat kamu yang produksi di konveksi Sukabumi.
1. Hitung Modal Produksi Bersama Salman Konveksi Sukabumi
Namun, langkah paling basic sering kali justru disepelekan, yaitu menghitung modal produksi secara jujur, bukan sekadar perkiraan. Misalnya, komponen biaya produksi di konveksi Sukabumi umumnya meliputi kain utama, kain pendukung, aksesoris seperti benang, kancing, dan label, biaya cutting dan jahit, finishing (QC dan setrika), serta packing dasar. Dengan demikian, perhitungan yang rapi sejak awal membantu brand menghindari kesalahan harga yang merugikan di tahap produksi berikutnya.
Contoh simulasi 1 pcs:
- Kain utama Rp. 20.000 x 3 meter = 60.000
- Kain pendukung : Rp. 15.000 x 2 meter = 30.000
- Aksesoris : Rp. 5000
- Cuting, Jahit, finishing & Packaging : Rp. 35.000
👉 Modal produksi awal = Rp. 130.000 / pcs
Keunggulan konveksi Sukabumi yang berpengalaman biasanya transparan di tahap ini, jadi nggak pakai asumsi.
2. Masukkan Biaya Tersembunyi Biar Nggak Rugi Halus
Ini bagian yang bikin banyak brand “ngerasa untung” padahal sebenarnya tekor.
Biaya tersembunyi yang wajib dihitung:
- Biaya desain & revisi
- Foto produk
- Fee marketplace
- Produk reject / retur
- Subsidi ongkir
Untuk di marketplace biaya admin bisa 35% sampai dengan 40% dari harga jual, jadi kita harus menambahkan minimal 100% dari harga produksi
Misal :
👉 Biaya tambahan = Rp. 130.000 / pcs
Maka:
Modal real = Rp. 130.000 + Rp. 130.000 = Rp. 260.000
Angka inilah yang harus jadi dasar harga jual di marketplace, bukan cuma biaya jahit doang.
3. Tentukan Margin Aman untuk Bisnis Fashion
Agar bisnis bisa berjalan panjang, brand harus menjaga margin tetap sehat. Oleh karena itu, banyak brand menetapkan margin minimum 30 persen sebagai batas aman, sementara margin ideal mereka tetapkan di kisaran 40 hingga 60 persen.
Sebagai contoh, ketika modal riil produksi berada di angka Rp130.000 dan brand menargetkan margin 50 persen, brand dapat menghitung harga jual dengan membagi harga produk dengan (100 dikurangi laba kotor). Dengan perhitungan ini, pembagian Rp130.000 dengan 50 persen menghasilkan harga jual sekitar Rp260.000.
Dengan demikian, harga tersebut tergolong masuk akal, bukan mahal. Apalagi, jika konveksi Sukabumi mampu menjaga kualitas produksi tetap rapi dan konsisten, harga tersebut benar-benar mencerminkan nilai produk yang sehat dan berkelanjutan.
4. Bandingkan Harga Pasar Tanpa Ikut Perang Harga
Namun, riset kompetitor memang penting, tetapi tidak boleh dilakukan secara berlebihan. Misalnya, hal yang perlu dibandingkan meliputi jenis bahan, kualitas jahitan, segmentasi target market, dan skala brand. Dengan demikian, jika produk kamu memiliki produksi rapi, jahitan kuat, dan ukuran yang konsisten, maka harga sedikit di atas pasar masih tergolong valid. Sebaliknya, perang harga cenderung berumur pendek dan sering berujung pada kegagalan bisnis.
5. Mainkan Psikologi Harga Biar Lebih Menarik
Harga itu bukan cuma angka, tapi cara angka itu dibaca.
Contoh strategi simpel:
- Rp119.000 terasa lebih ringan dari Rp120.000
- Bundle 2 pcs = Rp229.000 (lebih “worth it”)
- Limited stock bikin urgensi
Strategi ini bikin harga terlihat rasional tanpa harus nurunin margin.
6. Studi Kasus Mini Produksi di Salman Konveksi Sukabumi
Brand X (asal murah):
- Modal real: Rp. 130.000
- Harga jual: Rp. 180.000
- Margin tipis
- Nggak kuat diskon
- Stuck di volume kecil
Brand Y (pakai simulasi konveksi):
- Modal real: Rp. 130.000
- Harga jual: Rp. 260.000
- Bisa promo, bisa pasang iklan, tetap untung
- Cashflow sehat
- Produksi repeat
Perbedaannya cuma satu: cara menentukan harga sejak awal.
7. Kenapa Strategi ini Penting dalam Penentuan Harga
Selain itu, konveksi yang berpengalaman biasanya mampu membantu simulasi biaya per pcs, memberikan rekomendasi bahan sesuai target harga, serta menjaga konsistensi kualitas sehingga tingkat reject bisa ditekan. Dengan begitu, harga jual yang kamu tentukan bukan lagi hasil tebak-tebakan, melainkan hasil perhitungan matang yang didukung oleh pengalaman produksi.
Penutup
Menentukan harga jual pakaian yang masuk akal itu wajib pakai data, bukan perasaan. Dengan demikian, transparansi biaya dan efisiensi produksi menjadi kunci utama ketika kamu memproduksi di Salman Konveksi Sukabumi.
Oleh karena itu, harga yang sehat membuat bisnis bertahan lebih lama, membangun kepercayaan terhadap brand, serta memungkinkan proses produksi naik ke level yang lebih profesional.
Misalnya, di Salmankonveksi, banyak brand memulai dari simulasi biaya terlebih dahulu sebelum produksi massal. Dengan begitu, targetnya jelas: harga jual realistis, kualitas aman, dan bisnis bisa tumbuh.
Di artikel berikutnya, kita bakal bahas:
👉 Kesalahan fatal brand fashion pemula sering terjadi saat memilih konveksi. Oleh karenanya, salah memilih partner produksi bisa membuat harga hancur sejak awal.



