Hampir semua brand fashion pemula pernah ada di fase galau yang sama: mending produksi dulu atau pakai sistem pre-order?
Di kepala kelihatannya sepele, tapi di lapangan ini salah satu keputusan paling krusial.
Salah ambil langkah, risikonya bukan cuma stok numpuk atau pembeli kabur, tapi boncos di produksi pertama. Banyak brand berhenti bukan karena produknya jelek, tapi karena cashflow habis sebelum sempat berkembang.
Di artikel ini, kita bahas realita produksi dulu vs pre-order tanpa gimmick. Bukan teori manis, tapi apa yang sering kejadian di lapangan konveksi.
Produksi Dulu: Terlihat Profesional, Tapi Risiko Diam-Diam
Produksi dulu sering kelihatan paling “niat”. Produk ready, foto bisa langsung dipajang, pembeli tinggal checkout. Dari sisi branding, ini memang keliatan lebih meyakinkan.
Masalahnya, produksi dulu itu butuh modal yang siap mental. Kamu harus keluar uang sebelum tahu barangnya bakal secepat apa laku. Kalau demand meleset sedikit aja, stok bisa ngendap berbulan-bulan.
Namun, pada produksi pertama, risiko biasanya meningkat karena brand belum memahami respons pasar, ukuran sering meleset, model belum tentu cocok, dan prediksi jumlah kerap tidak akurat.
Sebaliknya, strategi produksi dalam jumlah besar lebih cocok ketika brand sudah memiliki data penjualan sebelumnya, target market yang jelas, serta modal yang siap “mengendap”. Oleh karena itu, tanpa bekal tersebut, keputusan produksi awal sering berubah menjadi pelajaran mahal bagi bisnis.
Pre-Order: Aman Modal, Tapi Nggak Semulus yang Dibayangin
Pre-order sering dianggap solusi paling aman buat pemula. Nggak keluar modal besar, produksi sesuai pesanan, risiko stok nyaris nol.
Secara konsep, iya. Tapi realitanya, pre-order juga punya jebakan.
Pre-order butuh:
- Trust yang kuat
- Komunikasi yang rapi
- Partner konveksi yang disiplin timeline
Kalau estimasi molor, pembeli bisa ribut. Kalau kualitas nggak sesuai ekspektasi, reputasi langsung kena. Banyak brand pemula gagal bukan di penjualan, tapi di manajemen ekspektasi pre-order.
Pre-order cocok banget buat:
- Validasi produk pertama
- Tes desain dan ukuran
- Bangun demand awal
Tapi kalau dipakai terus tanpa upgrade sistem, brand bisa stuck di situ-situ aja.
Kesalahan Umum Produksi Pakaian: Nyampur Sistem Tanpa Perhitungan
Kesalahan yang sering kejadian: setengah produksi, setengah pre-order, tapi tanpa perhitungan matang. Hasilnya? Produksi kebanyakan, pre-order molor, stok nggak sinkron.
Banyak yang mikir, “Biar aman, kita produksi pakaian dikit, sisanya PO.”
Padahal kalau nggak dihitung dari awal, dua-duanya bisa jadi masalah.
Di sinilah pentingnya ngobrol dari awal sama konveksi soal:
- Minimum produksi
- Estimasi waktu real
- Risiko revisi
- Skema produksi bertahap
Produksi itu bukan cuma soal jahit, tapi soal strategi.
Jadi, Pilih Mana Biar Nggak Boncos?
Jawaban jujurnya: tergantung posisi brand kamu sekarang.
Kalau masih benar-benar baru, belum punya data, dan modal terbatas, pre-order biasanya lebih aman buat langkah pertama. Tapi harus disiplin di timeline dan kualitas.
Kalau sudah punya audience, pernah jual model serupa, dan cashflow cukup, produksi dulu bisa bikin brand kelihatan lebih solid dan scalable.
Yang bikin boncos bukan pilihannya, tapi asal pilih tanpa hitung risiko.
Peran Konveksi di Keputusan Ini
Partner konveksi punya peran besar di keputusan produksi pakaian vs pre-order. Konveksi yang berpengalaman biasanya bisa bantu:
- Simulasi biaya produksi kecil vs besar
- Estimasi waktu realistis
- Saran jumlah aman buat produksi pertama
Ini ngebantu brand nggak sekadar nebak, tapi mutusin berdasarkan data dan pengalaman lapangan.
Penutup Produksi Pakaian
Produksi dulu atau pre-order bukan soal mana yang paling keren, tapi mana yang paling aman buat kondisi brand kamu sekarang. Banyak brand boncos bukan karena salah jualan, tapi karena salah ambil langkah di produksi pertama.
Kalau dari awal sudah mikir strategi, hitung risiko, dan kerja bareng konveksi yang transparan, kemungkinan gagal bisa ditekan jauh.
Di artikel berikutnya, kita bakal bahas lebih teknis dan praktis:
👉 Cara Menghindari Boncos Saat Produksi Pertama — mulai dari jumlah aman, kontrol kualitas, sampai simulasi biaya yang sering dilupain.



