biaya produksi baju

Komponen Biaya Produksi Baju yang Sering Dilupakan

Awal Masalah: Kenapa Banyak Produksi Terlihat Untung tapi Uangnya Hilang

Ceritanya hampir selalu sama. Produksi jalan lancar, order masuk terus, tapi saldo tidak pernah terasa aman. Padahal, perhitungan cepat menunjukkan bahwa harga jual sudah berada di atas biaya kain dan ongkos jahit. Di sinilah banyak pelaku usaha konveksi mulai curiga: ada sesuatu yang bocor.

Masalahnya bukan di penjualan. Masalahnya ada di cara memandang biaya produksi baju. Banyak brand menganggap terlalu banyak komponen sebagai “bukan biaya”, padahal komponen tersebut secara nyata menggerogoti keuntungan.


Saat Kain Datang, Biaya Sudah Mulai Jalan

Banyak orang mengira biaya baru dimulai saat kain dipotong. Padahal sejak kain datang, biaya sudah berjalan. Ada waktu untuk mengecek kualitas, menyamakan warna, memastikan lebar kain konsisten. Tim produksi kadang menemukan cacat kecil yang membuat kain tidak bisa dipakai, sementara brand tetap membayar kain tersebut penuh meskipun hasil akhirnya berkurang.

Banyak brand jarang mencatat waste kecil ini, tetapi dampaknya langsung terasa saat mereka mengalikannya dengan puluhan roll kain.


Cutting Bukan Sekadar Potong Kain

Di atas kertas, cutting terlihat simpel. Kenyataannya, tahap ini penuh biaya tersembunyi. Meja potong, pisau, mesin potong, listrik, sampai penyusutan alat kerja. Pisau yang tumpul bikin hasil potong tidak presisi dan memicu kesalahan lanjutan.

Sekali salah potong, kain tidak bisa kembali. Biaya itu langsung berubah jadi kerugian, tapi sering tidak masuk perhitungan.


Ongkos Jahit yang Tidak Pernah Benar-Benar “Bersih”

Banyak brand menganggap ongkos jahit sebagai angka final tanpa memahami detail proses di baliknya. Padahal realitanya, tidak semua proses jahit berjalan mulus. Tim sering menemukan jahitan miring, ukuran meleset, atau pola yang harus dibongkar ulang, tetapi jarang menghitung waktu tambahan ini ke dalam biaya produksi.

Ketika satu baju butuh jahit ulang, biayanya tetap ada. Brand tetap membayar tenaga kerja dan menjalankan mesin, tetapi margin mereka terus tergerus tanpa disadari.


Biaya Kecil yang Dianggap Sepele Tapi menggerogoti

Banyak brand menganggap benang, jarum, oli mesin, dan spare part kecil sebagai hal yang tidak penting. Tapi produksi baju bukan soal satu potong. Di ratusan atau ribuan pcs, biaya kecil ini menumpuk.

Masalahnya, brand tidak mencatat biaya ini per produksi sehingga biayanya seolah menghilang, padahal jika dikumpulkan nilainya bisa setara dengan margin bersih.


Finishing: Tahap Sunyi yang Diam-Diam Mahal

Setelah jahit selesai, banyak orang merasa produksi sudah hampir selesai. Padahal finishing justru menghabiskan banyak biaya. Obras, pasang kancing, label, setrika, lipat, dan packing.

Setrika butuh listrik. Brand harus membeli plastik packing dan kardus, tetapi sering mengabaikannya dalam perhitungan biaya produksi baju karena menganggapnya sebagai biaya operasional biasa.


Reject, Cacat, dan Barang Tak Layak Jual

Tidak ada produksi yang 100% sempurna. Selalu ada baju yang tidak lolos quality control. Kadang brand masih bisa menjualnya dengan harga murah, kadang harus menyimpannya, dan kadang tidak bisa menjualnya sama sekali.

Masalahnya, biaya produksi baju cacat ini tetap biaya penuh.Jika brand tidak memasukkan biaya ini ke dalam perhitungan, mereka hanya menciptakan laporan keuntungan semu.


Biaya Waktu yang Tidak Pernah Masuk Excel

Lead time molor bukan cuma soal keterlambatan. Itu biaya. Ketika satu produksi tertahan, order berikutnya ikut tertunda. Arus kas terganggu, tenaga kerja menunggu, dan jadwal berantakan.

Brand jarang menghitung waktu sebagai biaya, padahal waktu bisa berdampak besar pada HPP. Terutama untuk usaha yang mulai padat order.


Ongkos Koordinasi yang di Sepelekan

Bolak-balik ke konveksi, kirim sample, revisi desain, komunikasi panjang lewat chat dan telepon. Semua ini makan waktu dan uang. Transport, bensin, pulsa, dan tenaga mental.

Banyak brand menganggap biaya ini sebagai “biaya pribadi” karena mereka tidak menyediakan kwitansi produksi khusus. Padahal jelas bagian dari proses produksi.


Saat Produksi Membesar, Administrasi Jadi Biaya Nyata

Saat skala produksi membesar, brand harus mulai menjalankan administrasi. Gaji admin, pencatatan order, pembukuan, software, dan sistem kerja. Tanpa ini, produksi kacau.

Brand sering memisahkan biaya administrasi dari biaya produksi.. Padahal tanpa admin, produksi tidak jalan rapi. Artinya, ini tetap bagian dari biaya produksi baju.


Kenapa Konveksi Berpengalaman Justru Detail Soal Biaya

Konveksi yang bertahan lama bukan yang paling murah, tapi yang paling paham angka. Mereka tidak takut mencatat biaya kecil, karena dari situlah kontrol muncul.

Dengan angka yang jujur, keputusan bisnis jadi tenang. Harga jual realistis. Margin jelas. Tidak ada kejutan di akhir bulan.

Salmankonveksi menerapkan pendekatan ini dalam menghitung HPP.. Setiap proses dipandang sebagai biaya, bukan asumsi. Pengalaman di lapangan membuktikan bahwa pelaku bisnis lebih sering menghancurkan usahanya sendiri karena membiarkan biaya kecil bocor, bukan karena menetapkan harga jual terlalu mahal.


Penutup: Bukan Harga yang Salah, Tapi Hitungannya

Kalau selama ini usaha terasa jalan tapi uang tidak pernah betah, kemungkinan besar masalahnya ada di perhitungan. Bukan karena kamu salah jual, tapi karena biaya produksi baju tidak pernah terlihat utuh.

Di artikel selanjutnya, kita akan bahas cara menyusun semua komponen biaya ini jadi HPP yang rapi, sederhana, dan realistis, tanpa ribet ala pabrik besar—biar bisnis konveksi bisa tumbuh tanpa drama.

Bagikan: WhatsApp Facebook Telegram

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top