Pendahuluan
Banyak orang mikir bikin baju di konveksi itu simpel: pesan, jahit, kirim. Padahal di balik itu ada alur kerja konveksi profesional yang rapi, detail, dan berurutan. Kalau satu tahap saja ngaco, efeknya bisa domino: akibatnya, jadwal telat, hasil meleset, bahkan rugi.
Artikel ini ngebahas alur real di konveksi profesional, dari order masuk sampai barang dikirim. Cocok buat pemilik brand, UMKM, atau tim kantor yang mau produksi tanpa drama. Biar paham: konveksi serius itu kerja pakai sistem, bukan feeling.
1. Order Masuk & Briefing Produksi
Semua dimulai dari order yang jelas. Konveksi profesional gak cuma nerima “pokoknya bikin ya”, tapi ngunci detail sejak awal:
- Jenis produk (gamis, seragam, kaos, dll)
- Jumlah & size breakdown
- Bahan + warna
- Deadline
- Budget range
Biasanya, setelah itu lanjut ke briefing produksi internal. Tujuannya satu: semua tim punya persepsi yang sama. Karena itu, ini jadi fondasi alur kerja konveksi profesional. Selain itu, kalau awal sudah blur, maka akhir pasti ribet.
2. Sampling & Approval
Setelah brief oke, masuk ke tahap sample.
Sample ini penting banget karena:
- Ngetes bahan asli
- Ngetes cutting & jahitan
- Ngetes ukuran real
Klien ngecek → revisi (kalau ada) → approve. Setelah itu, konveksi profesional tidak lanjut produksi massal sebelum sample ACC. Dengan aturan ini, tidak ada debat di belakang karena semua sudah disepakati sejak awal
3. Pengadaan Bahan & Cutting
Begitu sample aman, tim masuk ke:
- Pengadaan bahan sesuai spek
- Quality check bahan
- Cutting massal
Di tahap ini, akurasi jadi kunci. Salah potong = waste.
Makanya konveksi profesional pakai:
- Pola baku
- Penjadwalan cutting
- Kontrol pemakaian bahan
Semua dicatat. Bukan cuma di kepala tukang.
4. Proses Jahit Bertahap
Jahit bukan satu meja satu orang doang. Di sistem profesional, jahit itu bertahap:
- Jahit bagian utama
- Pasang detail
- Finishing jahitan
Setiap tahap bisa dicek kualitasnya. Dengan demikian, cacat bisa terdeteksi lebih awal, sehingga tidak menumpuk di tahap akhir.
Karena itu, inilah bedanya: konveksi profesional punya sistem yang terukur, sedangkan yang abal-abal cenderung kerja asal jadi.
5. Quality Control (QC)
Dengan begitu, QC itu bukan sekadar formalitas. Oleh karena itu, pengecekan dilakukan pada:
- Kerapian jahitan
- Ukuran
- Noda / cacat bahan
- Kesesuaian sample
Produk yang gak lolos QC dipisah.
Yang lolos lanjut, yang bermasalah diperbaiki. Ini bikin hasil konsisten dan brand klien aman.
6. Finishing, Packing, dan Pengiriman
Tahap akhir:
- Pertama, setrika / steam
- Selanjutnya, lipat rapi
- Kemudian, packing sesuai request (plastik, box, label)
- Setelah itu, hitung ulang jumlah
- Baru setelah itu, dikirim
Selain itu, konveksi profesional biasanya memberi update status, bahkan tracking pengiriman. Dengan begitu, klien gak perlu nebak-nebak.
Insight Profesional
Kalau kamu nemu konveksi yang:
- Gak pakai sample
- Gak jelas alurnya
- Deadline fleksibel tapi molor terus
Itu red flag 🚩
Alur kerja konveksi profesional itu disiplin, bukan ribet. Justru bikin semua pihak tenang.
Di Salmankonveksi, alur ini dijaga ketat mulai dari order sampai pengiriman. Selain itu, sistem tetap berjalan meski MOQ kecil. Bahkan begitu, proses tetap konsisten dan terukur. Dengan demikian, klien brand maupun kantor bisa repeat order tanpa drama, karena semua proses sudah terstandarisasi sejak awal.
Penutup
Sekarang kamu tahu kenapa alur kerja konveksi profesional itu penting. Produksi baju bukan soal cepat doang, tapi soal terkontrol dan konsisten.
Kalau kamu lagi cari konveksi yang kerja pakai sistem, bukan asal jahit, pilih Salmankonveksi sebagai partner jangka panjang.
Di artikel berikutnya, kita bakal bahas kesalahan paling sering klien lakukan saat order ke konveksi — dan cara nghindarinnya sejak awal. Jangan skip.
Baca juga : Tahapan Produksi Konveksi yang Wajib Dipahami Pemilik Brand



